Selasa, 11 September 2012

POLEMIK KADERISASI IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH


Oleh IMMawan Martunis*

 Kaderisasi dalam keorganisasian pada hakekatnya adalah totalitas upaya pembelajaran dan pemberdayaan yang dilakukan secara sistematis, terpadu, terukur dan berkelanjutan dalam rangka melakukan pembinaan dan pengembangan kognitif, afektif dan psikomotorik setiap individu. Kaderisasi yang dilakukan oleh setiap organisasi bertujuan untuk mencetak “manusia-manusia unggul” yang memiliki loyalitas dan komitmen terhadap organisasi, Memiliki integritas dan cita-cita berkemajuan. Biasanya kaderisasi dilakukan dalam banyak tahapan mulai dari jenjang kekaderan yang terendah hingga jenjang kekaderan yang paling atas.
Begitu juga dengan Ikatan Mahasiswa Muhammdiyah (IMM), sebagai bagian dari organisasi otonom Muhammadiyah dalam lingkup mahasiswa yang senantiasa melakukan proses pengkaderan yang hampir tidak pernah putus. Pengkaderan IMM adalah merupakan suatu keharusan karena organisasi ini mendedikasikan diri sebagai organisasi kader bukan organisasi massa.
Kalau kita membuka kembali Sistem Pengkaderan Ikatan (SPI) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah maka kita akan menemukan tiga jalur proses kaderisasi yang harus ditempuh persyarikatan Muhammadiyah dalam rangka mengusahakan lahirnya kader­-kader muda Muhammadiyah.
Adapun ketiga jalur yang dimaksudkan ialah :
  1. Jalur pendidikan formal, melalui lembaga-lembaga formal yang dimiliki Muhammadiyah
  2. Jalur informal, berupa penanaman misi di lingkungan keluarga, dan sosialisasi di tengah-tengah masyarakat
  3. Jalur Program khusus Badan Pendidikan Kader dan Organisasi-organisasi Otonom



Ketiga jalur ini diharapkan bisa menjadi “pemasok” kader-kader yang akan melestarikan khittah gerakan Muhammadiyah. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan bagian dari organisasi otonom Muhammadiyah dengan basis anggota yang relatif homogen. Mahasiswa sebagai wahana kaderisasi, IMM diharapkan dapat menghasilkan komunitas kader-kader yang memiliki kualitas intelektual, kapasitas moral dan peran sosial yang memadai.
Dalam mencapai kualifikasi kekaderan yang memadai. Maka, IMM dituntut untuk menyelenggarakan program perkaderan dengan strategi perencanaan yang serius dan kerangka kerja yang jelas. Maka kurikulum dan metode menjadi acuan utama guna pencapaian hasil yang optimal. Sehingga dari proses kaderisasi yang dikembangkan IMM dapat lahir kader-kader yang memahami misi dan cita-cita Muhammadiyah dengan benar.
Pengkaderan adalah proses IMM dalam mencetak manusia-manusia unggul yang sesungguhnya. Tujuan Pengkaderan sacara umum adalah untuk mecetak aktivis-aktivis IMM yang memiliki loyalitas, jati diri (identitas), dan kemajuan dalam konteks kolektivitas kebersamaan dalam organisasi. Inilah saat dimana kader-kader IMM diberikan pengetahuan, pedoman, dan tujuan IMM. Guna mencapai tujuan tersebut dalam proses pengkaderan selalu diwacanakan mengenai tri kometensi IMM yang dalam diri kader, tri kompetensi ini meliputi humanitas, intelektualitas dan religiusitas. Inti dari trilogi ini adalah tuntutan untuk menjadi kader yang memiliki intelektualitas dalam segala bidang yang berpedoman pada Al-qur’an dan As Sunnah serta memiliki kepekaan sosial yang tinggi dalam bermasyarakat.
Dilema yang terjadi dalam pengkaderan adalah kader-kader baru hanya menghapal tri kompetensi IMM dan setelah proses kaderisasi  berakhir, maka berakhir pulalah hapalan tersebut inilah pokok masalah yang harus dibenahi, yaitu tri kompetensi IMM bukan hanya sekedar untuk dihapal akan tetapi untuk dipraksiskan dalam realitas kehidupan. Seharusnya setelah proses itu kader sudah mampu mengaktualisasikan trikompetensi IMM. Bukan malah sebaliknya yang masih bingung ingin berbuat apa untuk IMM. Tidak memiliki kreatifitas dan imajinasi membangun, dan yang paling patal adalah menjadi “aktivis-aktivis benalu” dalam tubuh IMM. Fakta dari penomena ini tampaknya tidak perlu untuk diperdebatkan kebenarannya. Jika hal ini masih terjadi bukan rahasia lagi bahwa proses pengkaderan hanya rutinitas belaka hanya untuk memenuhi tuntutan tiap bulannya tanpa ada kader IMM sejati yang tercipta dan menjadi penggerak dalam organisasi IMM.
Dilema yang lain dari sudut legitimasi akan eksistensi IMM diamal usaha Muhammadiyah. Eksistensi IMM di PTM adalah merupakaan suatu keniscayaan. IMM mendapat legitimasi untuk menempatkan PTM sebagai basis gerakannya, Disamping itu,  hal ini terdapat pada statuta  Perguruan Tinggi Muhammadiyah, IMM juga adalah bagian dari Angkatan Muda Muhammadiyah memiliki posisi strategis dalam rangka membangun tradisi pembaharuan Muhammadiyah  dengan basis kekuatan yang berada dikampus-kampus PTM termasuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aceh Barat Daya.
Melalui optimalisasi peran strategis IMM  tentunya nantinya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan kader-kader akademisi Muhammadiyah masa depan. Apalagi IMM merupakan pelopor, pelanjut, dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah. Hal ini perlu menjadi perhatian kita bersama bukan dari sisi kebijakan pimpinan PTM yang mengeluarkan kebijakan tentang adanya kebijakan bahwa wajib mengikuti proses pembinaan di IMM bagi mahasiswa yang berada di PTM atau amal usaha Muhammadiyah yang dimana seharusnya IMM membina dan dibina  akan tetapi yang harus menjadi bahan pemikiran bersama dari IMM dan pimpinan PTM  adalah bagaimana kebijakan yang dikeluarkan itu  ditunjang dengan kebijakan yang lain agar pembinaan bisa berjalan secara optimal. Hal ini penting agar menjadi pemikiran bersama bukan hanya IMM saja berfikir  akan tetapi menjadi tanggung jawab bersama untuk melakukan pembinaan.
Proses kaderisasi sesungguhnya dibagi menjadi dua bagian yaitu saat kaderisasi dan pasca kaderisasi. Tahap kaderisasi adalah saat dimana proses doktrinasi berlangsung. Proses doktrinasi ini berupaya untuk membekali diri seorang kader dengan tujuan dasar organisasi. Bukan hanya itu, proses ini berusaha dengan serius meyakinkan kader bahwa mereka tidak salah memilih organisasi. Adapun metode yang digunakan dalam proses ini adalah tentunya sesuai dengan Sistem Pengkaderan Ikatan (SPI) yang berlaku di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
Sedangkan pasca kaderisasi adalah proses dimana ‘kakanda’ memberikan arahan, masukan dan semangat bagi kader baru dan pimpinan IMM di semua level kepemimpinan. Artinya kader yang baru masuk berproses didalamnya secara intensif dan kontinyu diberikan motifasi secara intens pula tapi bukan berarti “mendikte“ melainkan berusaha mengembangkan kreasi dan imajinasi kader atau pimpinan di IMM pada semua level kepemimpinan yang ada. Metode yang digunakan dengan cara menjaga harmonisasi dan membantu mencarikan solusi- solusi pemecahan masalah bagi yang dialami oleh kader-kader IMM. Terutama dalam tataran akar rumput,  sehingga yang terciptalah keyakinan kader bahwa ia tidak salah memilih IMM.
Jika dilihat dari gambaran umum, maka seharusnya kaderisasi IMM bukan hanya sekedar sarana mewujudkan manusia – manusia normatif – teoritik, tetapi lebih  dari itu mampu mengaktualisasikan trikompetensi IMM secara praksis dan aplikatif sehingga untuk mengukur nilai kekaderan seorang kader IMM tidak hanya diukur dari jenjang kekaderan dan kepemimpinan yang pernah ia  lewati akan tetapi setelah ia menjadi alumni IMM dan mendapat posisi yang sangat strategis apakah ia masih mempertahankan nilai-nilai kekaderan yang pernah didapatkan dalam IMM dan mampu mentrasformasikan nilai itu dalam tatanan kehidupannya. Jika kita lihat secara khusus, maka kaderisasi IMM akan terorientasi sebagai berikut:
  • pertama adalah penigkatan kualitas wawasan, yaitu sikap mental sebagai kader IMM dan warga muhammadiyah sebagai manusia, warga masyarakat, warga bangsa, dan warga negara masyarakat global (kosmopolitan).
  • Kedua adalah pemantapan keberadaan dan partisipasi IMM dalam menunaikan tugas, kewajiban, dan tanggung jawabnya dalam meningkatkan kwalitas kehidupan masyarakat.
  •  Ketiga adalah peneguhan pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan kader IMM dalam menjalankan organisasi untuk diabdikan bagi kemajuan masyarakat.
  •  Keempat adalah terwujudnya kader – kader IMM yang “unggul”, tercerahkan, kreatif, inovatif dan dan memiliki kepribadian yang berderajad tinggi, serta berpegang teguh pada trikompetensi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Demikianlah telaah kritis yang mungkin sedikit mengusik rasa keberorganisasian. Namun wacana ini diharapkan menjadi spirit baru dalam bergerak menuju cita – cita mulia ikatan.  Billahifi sabililhaq fastabiqul khairat

Senin, 03 September 2012

PERKENALAN AKTIFIS IMM


NAMA                 : MARTUNIS
Jabatan                 : Kabid  Dakwah PK IMM STKIP
Email                    : martunissya@yahoo.co.id
Facebook/Twitter : Immawan Martunis
Website                     : http://wwwmartunis.blogspot.com











Perkenalanku dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah secara tidak sengaja dimulai ketika aku menjadi mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aceh Barat Daya. Pada waktu itu ada Masa Ta’aruf ( Masta )  di kampus ku dilaksanakan selama 3 hari . Pada waktu itu aktifis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah melaksanakan masta selama 1 hari penuh dan 2 harinya lagi di laksanakan oleh BEM. Disini aku melihat ada hak istimewa untuk  organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di dalam kampus Perguruan Tinggi Muhammadiyah dalam melaksanakan kegiatan kampus. Rasa ingin tahu akan gerakan Mahasiswa membuat ku memberanikan diri bertanya pada aktifis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tersebut. Mulai dari apa sih sebenarnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah tersebut, sampai prestasi apa yang sudah dilakukan oleh organisasi ini.
Sangat minim kudapatkan informasi tentang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dari seniorku tersebut. Satu yang menarik bagiku pada saat itu, aku diajak ikut aksi di simpang cerana kota blangpidie, pada waktu itu aku merasa disinilah tempatku mengapresiasikan keinginanku untuk melakukan pembaharuan terhadap umat.
Akhirnya pendaftaran pun di buka, aku mendaftarkan diri di secret IMM, kemudian mengikuti screaning tes, Alhamdullah aku lulus tes dan selanjutnya mengikuti Perkaderan Darul Arqam Dasar ( DAD ). Disinilah para pemateri, yang dikemudian hari aku tahu, bahwa mereka mantan aktifis IMM, memberikan motivasi, wawasan, pengetahuan ideology tentang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.    .
Ada satu hal yang aku rasakan dalam hatiku pada saat itu, rasa ingin tahuku tentang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah bertambah besar. Wajar, karena mulai kecil, rasa ingin tahu ku terhadap hal-hal yang baru selalu besar. Sehingga selesai acara tersebut satu hal ku praktekkan  dalam hatiku bahwa aku harus mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang IMM, aku harus banyak bertanya, banyak membaca buku, banyak membaca artikel-artikel, banyak mendownload video IMM di youtube  serta jalan satu-satunya aku harus bergaul dengan aktifis organisasi IMM. Salam Ikatan  Billahifi sabililhaq Fastabiqul khairat.

Kamis, 24 Mei 2012

Kotak Berpita Merah


Oleh  : Ita Mustapa
                                                       Kader IMM Bandung
jurusan : Bahasa & Sastra inggris di UIN SGD Bandung
Kelahiran 17 mei 1991 di kota Bandung Jawa Barat.


Jam masih menunjukan pukul 06.00 Wib. Ya ini memang masih begitu pagi untuk ku. Mentari pun sepertinya masih enggan tuk menampakan dirinya pagi ini. Udara masih terasa begitu dingin menusuk tubuh sampai ke sendi-sendi. Embunpun masih enggan meninggalkan rerumputan dan burung-burung begitu riangnya bernyanyi seolah memberiku semangat tuk mengawali hari pagi ini. Namun hari ini aku harus menyelesaikan tugas penelitianku.
        Udara Bandung memang masih cenderung sejuk dibandingkan kota kelahiranku Jogja.  Sudah lama rupanya tak menginjakan kaki di kota budaya itu semenjak kepindahanku ke Bandung beberapa tahun lalu. Rindu rasanya dengan kampung halaman terlebih rindu dengan bapak ku yang masih setia menetap disana. Entah karena memang setia dengan kampung halaman atau mungkin karena tak ada pilihan lain lagi. “bapak, bagaimana kabarnya sekarang” gumamku dalam hati.
Kemudian terlintas dibenakku tentang masa 5 tahun lalu saat semuanya masih terasa begitu indah. Berada diantara orang-orang yang aku sayangi. Ibu,, bapak, seandainya perceraian itu tak pernah terjadi, mungkin saat ini aku masih tetap berada disana. Berada di tengah-tengah mereka, tak seperti sekarang jauh dari kedua orang tua karena aku lebih memilih untuk tinggal bersama nenek ku dibanding harus tinggal  dengan ibu dan ayah tiriku. Semua seolah berubah ketika kebahagian itu terenggut dengan kemelut yang tak pernah aku mengerti sampai saat ini.
Perceraian kedua orang tuaku membuat ku menjadi sosok yang pemurung dan lebih suka menyendiri. Aku tak suka dengan keramaian, karena menurutku keramaian tak bisa memberikan ku kedamaian seperti yang aku cari selama ini.
“Dira, loh ko malah melamun sih” suara nenek membuyarkan lamunanku.
“Memang kamu gak berangkat kuliah hari ini”
“Astagfirullah sampai lupa tadi kan aku berniat untuk bergegas pergi ke tempat penelitian” gumamku dalam hati.
“Iya nek hari ini aku ada tugas penelitian. Aku berangkat ya nek” ujarku seraya mencium tangan nenekku.
“Ya sudah hati-hati di jalan”
Aku langsung bergegas dan berlalu menjauh dari rumah.
* * *
Hari ini ku habiskan waktuku untuk menyelesaikan penelitian tugas akhir ku. Tapi entah mengapa rasa rindu serta cemas menyelimuti ku hari ini. Terlebih setelah aku memimpikan bapak ku tadi malam.
“Oh Tuhan semoga bapak baik-baik saja” gumamku dalam hati.
Darrr ,,, seseorang mengagetkanku.
“Ko malah melamun” ujar Dewi sahabat ku.
“Nnng,,gaa ko,, siapa yang melamun” ujarku membela diri.
Aku menyembunyikan rasa cemas yang kurasakan pada semua orang termasuk nenek. Entahlah rasanya aku tak berani mengungkapkan rasa rindu yang selama ini aku pendam kepada bapak. Keluarga ibu ku seolah menutup jalan untuk ku bisa bertemu dengan bapak.
Kringg,,kringg,,, sura handphone ku berdering tanda ada panggilan masuk.
“Hallo, dengan siapa disana” tanya ku karena ini nomor baru dalam phonebook ku.
“Ndok, ini bi Ningsih adik bapak mu” ujar suara di sebrang sana.
“Oh bi Ning toh, piye kabare toh bi?
“Alhamdulillah apik ndok, bagaimana kabarmu dan ibu mu?
“Dira baik bi, ibu juga baik. Bagaimana keadaan bapak bi?
“ Begini ndok, bapakmu,,,” suara disebrang sana terhenti sebentar “memangnya kamu belum tau kalau bapak mu sakit?
“Sakit!!! Aku langsung kaget ketika mendengar berita itu.
“Sejak kapan bi, kenapa baru kasih kabar Dira sekarang”
“Lho iki piye toh ndok, bibi sudah sering kasih kabar ke ibumu. Memangnya ibu mu gak kasih kamu kabar toh”
“Ndak, Dira ndak tau kalau bapak sakit bi”
“Ya sudah kalau begitu kapan kamu mau jenguk bapakmu ndok. Kasihan bapakmu, nampakya dia sudah rindu pada mu. Tapi bibi sarankan supaya secepatnya kamu kesini”
“Memangnya kenapa dengan bapak bi, sakitnya gak parah kan bi”
“Ya kamu kesini saja toh ndok, bibi tunggu ya”
“Iya bi Dira usahakan untuk secepatnya pulang ke Jogja”
“Ya sudah salam saja sama ibu mu dan yang lainya”
Aku bergegas pulang setelah mendapat telepon dari bi Ning. Pulang dengan membawa kecemasan dan pertanyaan-pertanyaan yang semakin menyeruak dalam hati. Mengapa ibu tak pernah memberiku kabar tentang bapak. Mengapa ibu seolah menjauhkan aku dengan bapak, ada apa ini sebenarnya. Apakah ibu terlalu sakit sehingga tak mau tau dengan semua yang berkaitan dengan bapak. Jika ibu memang kecewa terhadap bapak mengapa harus menumbalkan aku juga. Pertanyaan-pertanyaan itu memang sulit aku jawab.
* * *
Setibanya di rumah, aku langsung bergegas memasuki kamar serta menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa ke Jogja. Aku tak bisa menahan rasa khawatirku lebih lama lagi. Aku ingin bertemu bapak dan memastikan keadaannya meski memang aku pun belum tentu mendapat izin dari nenek serta ibu. Tapi tekad ini mengalahkan ketakutanku dan memberiku kekuatan untuk tetap pergi.
“Nek,Dira minta maaf sebelumnya tak memberitahu nenek tentang niat Dira untuk pergi ke Jogja malam ini. Dira mohon izin untuk bertemu bapak”
Nenek  ku hanya terdiam entah tanda setuju atau penolakannya terhadap niat ku.
“Dira disana ndak lama nek, Dira hanya ingin memastikan keadaan bapak”
“Ya sudah nak, nenek tak bisa menahanmu lebih lama lagi. Itu adalah hak mu untuk bertemu bapakmu. Salam saja pada bapak mu dan bilang nenek minta maaf karena tak bisa ikut menjenguk”
“Iya nek nanti Dira sampaikan setelah Dira bertemu bapak. Dira mohon pamit nek” ujarku seraya menyalami tangan nenek.
Aku langsung berlalu menjauh meninggalkan nenek yang kulihat masih berdiri menatap kepergianku. Tak tega memang meninggalkanya sendiri di rumah, namun rasanya aku lebih tak tega lagi jika harus berlama-lama membiarkan bapak merasakan sakit. Aku memang tak bisa menyembuhkan sakitnya namun setidaknya aku bisa mengobati rasa rindunya untuk bisa bertemu denganku.
* * *
Mentari pagi menyambut kedatanganku. Ku lihat suasana rumah yang dulu aku tempati tetap tak ada perbedaan masih sama seperti 5 tahun lalu ketika aku masih tinggal disini . Namun ada yang berbeda karena terlihat begitu banyak orang mendatangi rumah bapak. Entah ada apa aku pun tak tahu.
Ku percepat langkahku karena ingin mencari tahu mengapa orang-orang ini berada disini.  Ku masuki rumah perlahan  seolah tak ingin mengganggu orang-orang yang berada disana. Ku lihat bi Ning terduduk di ruang tamu seraya menangis dan ku hampiri dia.
“Ada apa toh bi, kenapa banyak orang? Memangnya mereka sedang apa disini? Tannyaku setengah memaksa.
“Bapak mu ndok, bapakmu” ujarnya dengan air mata yang masih mengalir.
“Ada apa toh bi dengan bapak, bapak kenapa”
Bi Ning hanya metapku lirih dan mendekapku erat. Aku merasa kebingungan. Langsung ku lepaskan pelukan bi Ning dan aku berlari menuju ruang keluarga. Ku lihat sesosok tubuh terbujur kaku di sudut ruangan ini. Wajahnya memucat dengan bibir yang mulai kebiruan, langsung ku raih sosok itu ku dekap dengan tangisan yang terasa begitu memilukan. Air mata ku mengalir tak henti bak air sungai yang mengalir dari hulu. Kata-kata tak bisa keluar dari mulutku. Aku hanya terduduk dengan penyesalan pilu. Kurasakan seorang mendekapku erat. Dia menegarkanku dan berusaha mengobati rasa sakit serta kekecewaanku.
Penyesalah serta rasa berdosa semakin menyeruak dalam hati ku. Mengapa Tuhan begitu kejam padaku. Mengapa secepat ini Tuhan mengajaknya pergi dari ku. Megapa Tuhan tak memberiku kesempatan untuk berbakti padanya. Apakah tuhan marah padaku,  apakah Tuhan benci padaku.
Setelah beberapa menit aku hanya terdiam dan seolah mulutku  terkunci oleh penyesalan, tanpa sadar tangisku meledak dan tak bisa aku tahan lagi. Dadaku terasa begitu sesak, tubuhku lemas seolah tak ada tulang yang menopang dalam tubuhku.
“Ba,,,,paaaakkkk, bangun pak. Ayo bangung. Ini Dira pak” aku berteriak histeris seraya  menggoyang-goyang kan tubuh bapak yang terlihat semakin  kurus dibanding sebelumnya.
“Istigfar ndok, istigfar! Jangan tangisi bapakmu seperti itu, dia juga pasti menangis  kalau lihat kamu seperti ini. Ikhlaskan bapakmu ndok”
“Ndak bi, ndak, bapak ndak boleh pergi. Bapak pasti masih hidup bi. Bapak Cuma lagi tidur karena kelamaan nunggu Dira. Pak,, bangun pak,,, Dira sudah datang pak. Ayo pak buka mata bapak!
“Sudahlah ndok,ikhlaskan bapakmu!
Aku kembali terdiam. Rasa tak rela menyelimutiku. Rasanya aku sedang bermimpi dan aku ingin segera bangun dari mimpi itu karena aku berharap kenyataan yang ada tak seperti ini. Air mata tak  hentinya mengalaliri kedua belah pipiku. Aku terduduk seraya menatap tubuh yang terbaring didepanku. Ku lihat raut muka yang semakin menua. Rasa sesal itu semakin menjadi ketika aku mengingat  semua pengorbanannya untuk ku. Aku menyesal karena belum sempat berbakti padanya. Bahkan aku belum sempat negucapkan sepatah kata pun untuknya karena Tuhan tak memberikanku kesempatan itu.
Harapan hanyalah tinggal harapan. Keinganan untuk memeluknya ketika wisuda nanti tinggalah sebuah angan yang tak bisa aku raih. Aku tak bisa melihatnya tersenyum ketika aku mengenakan jubah wisuda dan lulus dengan nilai yang bagus. Semua terasa sia-sia. Aku merasa tak berguna.
“Sudah ndok, kamu harus sabar. Bibi yakin bapakmu pastiakan tersenyum bahagia ketika melihatmu bahagia. Ndok, bapak mu menitipkan ini pada bibi dan menyuruh bibi untuk memberikannya padamu ndok” sebelum meninggal bapakmu mengatakan pada bibi kalau dia rindu padamu dan dia minta maaf karna tak bisa menemanimu ketika kamu wisuda nanti. Kata-kata itu semakin memaksa air mataku mengalir lebih deras lagi. Rasanya tak bisa ku tahan air mata yang mengalir. Aku semakin terisak ketika melihat sebuah kotak yang dihias dengan pita merah yang berada di tanganku.
* * *
Upacara pemakaman pun selesai. Aku merasa berada di alam mimpi dan memang berharap ini hanya mimpi buruk yang mengganggu tidur ku. Rasanya  aku ingin segera terbangun agar kesedihan yang ku rasa saat ini tak lagi aku rasakan.  Namun aku kembali tersadar kedunia nyataku ketika ku lihat kotak berpita merah yang berada disudut kamarku.
Ku raih kotak itu dan ku peluk erat. Tak terasa air mata kembali membasahi kedua belah pipiku. Tak kuasa ku membuka kotak itu, rasanya aku tak punya keberanian untuk membukanya. Cukup lama aku terisak dalam tangisan serta kenangan yang semakin nyata dalam ingatan.
Aku coba memberanikan diri untuk membuka kotak itu, terlebih karena aku ingin tahu apa isi kotak itu. perlahan ku buka pita yang menghiasinya dan menelanjanginya satu-persatu.
Ku lihat banyak sekali barang yang berada dalam kotak itu. Namun mataku tertuju pada satu buku yang berisi tentang catatan-catatan bapak. Bapak memang sama seperti ku suka menulis, ya meskipun dia seorang laki-laki tapi menurutku itu hal wajar. Dalam tulisannya dia menulis bahwa ini adalah kado yang selama ini dia siapkan saat ulang tahunku. Dia selalu mengirimkan ini di setiap ulang tahunku, namun entah apa sebabnya ibuku tak pernah membitahukanku dan selalu mengemblikanya kepada bapak tanpa aku ketahui. Ibu ku seolah menutup akses kabar tentangku.
Tangisku semakin menjadi ketika aku membaca halaman terakhir catatan itu. satu harapan terakhirnya adalah bertemu denganku dan memelukku. Aku merasa menjadi anak yang begitu durhaka, aku merasa begitu berdosa karena membiarkannya menahan kesakitan selama 5 tahun ini. Aku marah ,aku benci pada diriku sendiri.
Aku tersujud dalam gelap, aku meminta ampun kepada tuhan atas segala dosa-dosaku. Aku memohon padanya agar bapak mendapatkan tempat yang layak disisinya. Dan aku memohon kepada Tuhan agar kelak aku bisa bertemu dengan bapak di syurga nanti.

Rabu, 09 Mei 2012

DELAPAN KADO TERINDAH

Delapan macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang anda sayangi.


1. KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto atau faks. Namun dengan berada disampingnya, anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Jadikan kehadiran anda sebagai pembawa kebahagiaan.

2. MENDENGAR
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini. Sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya, ini memudahkan anda memberikan tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.

3. DIAM
Seperti kata-kata, didalam diam juga ada kekuatan diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tetapi lebih dari segalanya, diam juga bisa menunjukan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang”. Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomel.

4. KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah “kau bebas berbuat semaumu”. Lebih dalam dari itu, memberi kebebasab adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.

5. KEINDAHAN
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik? Tampil indah dan rupawan juga merupakan sebuah kado yang indah. Selain keindaha penampilan pribadi, anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana dirumah. Vas dan bunga segar cantik diruangan keluarga atau meja makan yang tertata indah misalnya.

6. TANGGAPAN POSITIF
Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Coba ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapakan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi anda. Ingat-ingat pula, pernahkah anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terimakasih dan pujian dan juga permintaan maaf adalah kado indah yang sering terlupakan.

7. KESEDIAAN MENGALAH
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengakaran. Apalagi sampai menjadi pertengkaran yang hebat. Bila anda memikirkan hal ini, berarti anda siapa memberikan kado “kesediaan mengalah”. Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

8. SENYUMAN
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputusasaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi?

Jumat, 09 Maret 2012

IMM Abdya Gelar Seminar

Laporan IMMawan Martunis.


BLANGPIDIE - Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC-IMM) Aceh Barat Daya (Abdya) bekerja sama dengan Forum Pemuda Gampong Abdya, melaksanakan seminar sehari dengan topik Menyongsong Pemilukada Abdya di Aula Arena Motel Blangpidie, Rabu (7/3).

Acara dibuka Ketua Umum Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Abdya,  Drs Ramli Bahar. Hadir antara lain, Dandim 0110 Letkol  E Dwi Karyono As, pejabat mewakili Kapolres Abdya, Wakil Ketua MPU,  Sayed Marwan Saleh, Ketua KIP  Abdya, Nazli SAg, Ketua Panwas, Eddy Faisal, Ketua Umum PC IMM Abdya, Julida Fisma.

Ketua Panitia, Darwin melaporkan, peserta berjumlah  100 orang dari unsur parpol, timses para calon Bupati/Wakil Abdya, OKP, Ormas, Mahasiswa dan Pelajar. Sedangkan nara sumber Dandim 0110 Letkol Arm E Dwi Karyono AS, Ketua KIP, Nazli SAg, Ketua Panwas, Eddy Faisal, Wakil Ketua MPU, Sayed Marwan Saleh, dan Pejabat mewakili Kapoles Abdya.(IMM)

IMM ABDYA GELAR AKSI POLITISI BUSUK


 Laporan : IMMawan Martunis


BLANGPIDIE - Sekitar 20 aktivis Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Jumat (9/3), menggelar  aksi  demo di Simpang Cerana, Blangpidie. Mereka mengusung peti mati dan sejumlah poster berisi protes atas politisi "busuk" dan pemimpin amoral.

Para pendemo berorasi meminta agar Pilkada 2012 di Aceh, harus berlangsung damai dan bermartabat. Mereka juga mengingatkan masyarakat, tidak lagi tergoda "recehan", sehingga tidak memilih pemimpin dan politisi busuk yang hanya menghabis-habiskan uang rakyat.

"Suara rakyat menentukan masa depan daerah, karena itu pililah pemimpin yang sesuai dengan hatinurani," teriak seorang pendemo.

Aksi itu berlangsung sekitar 40 menit dan mendapat pengawalan ketat aparat Polres. Sebelum membubarkan diri, para pendemo membakar peti mati yang dibalut dengan kain putih. Kejadian itu sempat mengagetkan warga ketika terdengar suara ledakan dari dalam peti, yang ternyata suara bambu terbakar (*)